Rabu, 22 Oktober 2008

Opini Publik akan Pemasaran Produk

Salahsatu strategi yang sangat berhasil adalah melalui permainan persepsi atau opini publik. Perusahaan harus mampu membangun opini atau persepsi yang baik akan produknya.
Salahsatu contoh yang sangat sukses adalah layanan 3G yang diikuti 3,5G dalam layanan operator seluler di Indonesia. Pada dasarnya kesuksesan pemasaran layanan 3G dan 3,5G tergantung pintar tidaknya operator memainkan opini dan persepsi publik.

Selama ini 3G dan 3,5 G dipersepsikan sebagai teknologi yang serba canggih, memungkinkan akses Internet cepat, bisa komunikasi tatap muka (video call), serta mewakili kemajuan masa depan.
Jika operator dan penyedia konten bisa mempertahankan ‘mitos’ kesaktian 3G sebagai ‘produk masa depan’ maka tak mustahil untuk sukses.

Operator perlu meyakinkan calon konsumen bahwa 3G dan 3,5G merupakan kebutuhan, bahwa kehidupan akan lebih gampang dan lebih berkualitas dengan teknologi baru itu.

Pada awal-awal peluncurannya, jualan persepsilah yang paling dominan. Dan ini tampak jelas pada iklan, pemberitaan, maupun penawaran produknya.
Namun langkah ini harus diikuti dengan pembuktian yang nyata sebelum momentumnya lewat. Harus ada konten dan aplikasi yang benar-benar bermanfaat.

Jika persepsi tentang keunggulan 3G dan 3,5G terbentuk tetapi tidak terbukti, akan menjadi masalah dalam jangka yang lebih panjang.
Beragam aplikasi komunikasi pribadi sebagai pengembangan dari SMS, MMS, maupun surat elektronik dorong (push e-mail) bisa jadi alternatif. Sebagai teknologi yang lebih canggih dengan bandwidth yang lebih besar, mestinya bisa menyediakan layanan komunikasi yang lebih hebat dengan tarif yang lebih murah.

Demikian pula dengan beragam aplikasi personalisasi seperti nada dering, musik, nada sambung pribadi, film dan sebagainya.
Terdapat banyak segmen yang selama ini belum tergarap oleh komunikasi 2G, seperti kemudahan komunikasi dalam keluarga serta komunikasi untuk segmen korporasi.
Pengawasan anak atau rumah serta pelacakan lokasi anggota keluarga selama ini belum tergarap.

Aplikasi yang terkait dengan sarana transportasi -misalnya komunikasi antara satu mobil dengan mobil lain di jalan raya-belum tersentuh oleh teknologi yang ada saat ini.
Begitu pun beragam kebutuhan kmunikasi korporasi seperti pengawasan pabrik, pertukaran data, sarana transaksi elektronik.
Tak ketinggalan aplikasi mobile-government juga masih menunggu teknologi yang mampu menyediakan akses Internet nirkabel bergerak kecepatan tinggi.
Artinya, komersialisasi layanan 3G dan 3,5G membuka peluang bagi operator dan para penyedia konten untuk lebih kreatif dalam menyediakan aplikasi dan layanan yang benar-benar sesuai kebutuhan.
Langkah ini harus segera dilakukan. Sebab jika hanya sibuk membangun persepsi dan opini tentang kehebatan 3G dan 3,5G tanpa pembuktian melalui aplikasi yang realistis dan murah, investasi yang mahal itu hanya akan menjadi bumerang.

Bagaimana keadaan sekarang ini? Kalau boleh jujur dapat dikatakan bahwa pada awal launching program ini sukses besar. Perusahaan berhasil membangun persepsi layanan 3G sehingga pemakai meningkat pesat, namun karena tidak diikuti dengan pengembangan layanan, produk ini menjadi jalan ditempat.

Contoh lain keberhasilan strategi menjual persepse ini adalah Tella Tella dari Jogjakarta. Ketela goreng telah ada sejak zaman dahulu. Tella Tella berhasil membangun persepsi dan opini publik yang menjadikan seolah olah Tella Tella merupakan produk makanan baru. Keberhasilan Tella Tella dapat kita lihat saat ini ratusan cabang melalui sistem franchise.

Dalam menjual persepsi ini tentunya selain didukung dengan biaya promosi yang besar juga diperlukan pemilihan media dan strategi iklan yang tepat.

0 komentar: