Rabu, 22 Oktober 2008

BATIK BUKAN HAL KUNO, TAPI BATIK DAPAT MENJADI GAUL

Edward Hutabarat, akrab dipanggil Edo, adalah perancang yang pertama kali mempopulerkan batik sebagai busana yang trendi untuk sehari-hari pada tahun 2006. Lewat lini busananya yang diberi nama Edward Hutabarat Part One. Sejak itulah, penggemar mode tanah air terbuka matanya. Di tengah gaya berbusana global yang masuk ke Indonesia, pemunculan batik dengan gaya trendi sangat menarik perhatian. Baju dari tekstil tradisional yang dirancang modis ternyata bisa tampil segar, ringan, dan disukai orang muda.Pandangan lama tentang batik kini berubah. Batik bergaya muda rupanya mengena di hati peminat mode. Peminatnya dari berbagai kalangan. Mulanya memang kelompok terbatas, para sosialita dan selebriti. Namun kini sudah mulai mewabah di kalangan umum.

Menariknya banyak orang muda yang berminat memakai gaun batik. Malah memunculkan beberapa ikon yang dalam banyak kesempatan acara publik hadir mengenakan batik, seperti Dian Sastro Wardoyo, Nia Dinata, Izabel Jahja, dan Chitra Subijakto.

Melihat batik dipakai orang terkenal dan terpampang di halaman mode di majalah, awam pun mulai ikut tertarik pada tekstil khas Indonesia itu. Sebagian memburunya di berbagai ajang pameran. Dalam sebuah pameran kerajinan di Jakarta belum lama ini, tampak gerai batik diserbu sejumlah para wanita: tua dan muda. muda. Mereka membeli kain batik, yang nantinya mereka jahitkan menjadi gaun modis.
Ada juga yang membongkar koleksi kain batik ibunya di lemari untuk mendapatkan batik lama.

Kini batik menjadi benda mode yang dipakai ke mana saja. Bagi penggemarnya, batik merupakan pa-kaian alternatif untuk menyelingi gaun-gaun modern yang dipakai untuk bergaya. Dengan pemikiran itu juga, rumah batik Allure, yang dikenal dengan koleksi baju batik bercorak abstrak di atas kain tenun, membuka butiknya di Senayan City. Diharapkan, pencinta mode akan mampir ke butik batik itu untuk mencari sepotong blus, rok, atau gaun dari bahan tradisional kita, setelah membeli sepotong gaun di Topshop atau sepotong rok GAP yang juga ada di pusat perbelanjaan itu.

Bukan baru sekali ini batik populer menjadi gaya kosmopolitan. Di era 1970-an, maestro batik Iwan Tirta menaikkan gengsi kain tradisional itu menjadi gaun malam mewah dan elegan. Ketika itu gaun batik sutra bercorak bunga hokokai, yang diperkaya tinta emas prada, sangat digemari ibu-ibu kelas atas sebagai gaun malam.
Sekarang, justru bertolak belakang. Batik kembali dicintai sebagai gaun ringan sehari-hari yang nyaman, terbuat dari batik katun, mulai dari batik lasem dan batik madura dengan warna dasar gelap, batik pekalongan yang penuh warna, sampai gaya batik yogya serta batik solo yang serba cokelat sogan.

Kebetulan juga perancang dunia sedang melirik pada budaya Asia. Salah satunya mengangkat batik sebagai inspirasi koleksi musim semi dan panas 2008. Sebut saja Cacharel atau Antik Batik. Namun, yang banyak menarik perhatian adalah koleksi perancang Amerika, Diana Von Furstenberg. Setelah beberapa waktu lalu dia memindahkan motif bunga prada Bali ke atas gaun silang-tumpuknya yang terkenal, kini giliran motif lereng batik yogya mewarnai koleksi barunya. Sepotong gaun bermotif bunga juga jelas bisa ditebak berasal dari batik pekalongan yang kaya motif flora dan warna tropis.

Opini diatas sudah memenuhi kredibillitas, kopetensi, dan akuntabilitas

0 komentar: