Rabu, 15 Oktober 2008

Memasuki bulan Ramadhan 1429, umat Islam kembali diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Bagi umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, suasana Ramadhan kali ini cukup memprihatinkan.
Kita pun disuruh dan dituntut untuk benar-benar berpuasa. Artinya, berpuasa bukan sekadar memenuhi perintah syariat agama, tapi juga karena kondisi riil bangsa kita yang kini tengah terjangkiti virus akut demoralisasi individual dan sosial.
Sebagai orang yang akan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, kesalahan atau dosa apa yang telah dan sedang kita perbuat? Apa yang bisa kita peroleh dengan ibadah puasa seandainya puasa itu benar-benar kita lakukan dengan sebaik-baiknya?
Pertanyaan ini cukup relevan dan signifikan untuk dikedepankan, agar puasa yang kita lakukan selama sebulan penuh benar-benar mengarah pada substansi ibadah tersebut dan implikatif sekaligus reformatif bagi perilaku dan moralitas kita sehari-hari. Ini sungguh penting karena nabi Muhammad saw. pernah memberikan early-warning bahwa Sekian banyak orang menjalankan puasa, akan tetapi mereka hanya mendapatkan lapar dan dahaga.
Secara medis, ibadah puasa bisa menyehatkan. Bila puasa bisa mendatangkan kesehatan, lantas sebenarnya apa penyakit yang bisa diobati oleh puasa, dan penyakit apa yang terbesar dan sulit diobati? Barangkali penyakit yang paling sulit diobati di era sekarang adalah penyakitnya orang-orang berkantong tebal. Sebab, dengan uang yang berlimpah, mereka bisa memakan apa saja, termasuk memakan manusia, homo homini lupus. Dengan uang, manusia bisa membeli apa saja, termasuk membeli kemanusiaan. Dengan uang pula orang bisa merebut apa saja, termasuk kekuasaan dan kehormatan.
Uraian di atas menegaskan, bahwa substansi ibadah puasa sejatinya adalah reformasi moralitas. Orang yang berpuasa dilarang memakan makanan yang haram. Bahkan untuk memakan makanan yang halal sekalipun kita harus memakai aturan, tepat waktu, memperhitungkan komposisi, dan proporsional.
Karena itu, puasa dan berbagai aktivitas di dalamnya, seperti salat tarawih, tadarus Al-Quran, dan sebagainya, jangan dijadikan sebagai trend. Puasa adalah untuk mencari ridha Allah SWT. Ini bisa diperoleh bukan hanya melalui ibadah ritual, tapi juga ibadah sosial. Artinya, yang menjadi orientasi utama puasa adalah, di samping pembentukan kesalehan individual, juga terbentuknya kesalehan sosial.

0 komentar: