Rabu, 15 Oktober 2008

Pembagian zakat di rumah seorang pengusaha di kota Pasuruan, Jawa Timur pada 15 Septermber 2008 yang lalu berujung petaka. Tercatat 21 orang meninggal dunia dan belasan orang lainnya cedera akibat saling berebutan, berdesak-desakan dan terinjak-injak. Mereka yang selamat akhirnya pulang dengan membawa Rp 30.000,- Ada lagi kejadian yang mirip dengan itu, juga terkait pembagian zakat. Ini terjadi di sebuah pondok pesantren di daerah Probolinggo Jawa Timur. Demi mendapatkan 5 Kg beras, puluhan warga jatuh pingsan kendati sudah diantisipasi aparat keamanan dari Polres Probolinggo.

Fenomena apakah yang sedang terjadi di negeri ini? Inikah potret buram kemiskinan kita? Peristiwa di atas secara terang benderang telah menggambarkan banyak hal. Semuanya mengarah kepada lemahnya bangsa ini mengelolah potensi bangsa, baik potensi alam maupun maupun potensi sosial. Kita telah menyia-nyiakan modal sosial yaitu kepedulian sebagian warga yang secara ekonomi tergolong mampu untuk sekadar menolong anak bangsa yang sedang kesulitan, melalui zakat.

Musibah di atas terjadi lantaran, pertama, adanya ketidakpercayaan warga muslim terhadap kinerja lembaga zakat yang ada. Para muzaki masih kurang percaya kepada lembaga amil zakat, sehingga masih cenderung membayar zakat langsung secara individu kepada mustahiq, tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin akan timbul.

Kedua, masih tingginya angka kemiskinan di negeri ini, yang menyebabkan warga miskin harus berjuang keras dengan cara apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang terhimpit tingga harga-harga kebutuhan pokok. Kondisi ini ditambah pula dengan budaya konsumerisme di kalangan masyarakat kita, lebih-lebih pada saat hari raya. Orang berupaya untuk tampil beda, baik dalam hal berpakaian, dan lebih-lebih menyangkut hidangan di rumah.

Maka upaya jangka pendek yang mestinya segera dibenahi adalah soal pengelolaan zakat. Sudah saatnya kita memiliki lembaga zakat yang kredibel. Ketua Umum Forum Zakat Naharus Nurur menilai, pengelolaan zakat melalui lembaga amil zakat belum berjalan secara efektif, hal tersebut dibuktikan dari 17,5 trilyun rupiah potensi zakat di Indonesia hanya terserap sebesar 44 milyar rupiah. Jika memungkinkan agar segera dibuatkan seperangkat aturan setingkat undang-undang agar kedudukannya (lembaga pengelola zakat) bisa setingkat lembaga non departemen yang dikelola oleh pejabat setingkat eselon satu. Ini penting, karena zakat adalah ibadah. Jika tidak dikelola secara baik, akan sia-sia upaya kita menabur pahala

0 komentar: